Budidaya Jamur Tiram Ditengah Ladang Migas Blok Cepu Kota Bojonegoro

November 18, 2009 at 12:43 pm (Uncategorized) (, , , )

Budidaya Jamur Tiram Ditengah Ladang Migas Blok Cepu
Kemandirian masyarakat di sekitar Ladang Migas Blok Cepu mulai terlihat. Hal itu ditandai banyaknya usaha baru yang bermunculan di tengah Sumur Banyuurip-Jambaran, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro. Selain jasa warung makan, budidaya peternakan dan melon, kini lahir usaha budidaya Jamur Tiram. Usaha tersebut sekarang ini tengah digeluti Suwandi, warga Desa Bonorejo, Kecamatan Ngasem. Salah satu desa sentra Blok Cepu. ”Usaha ini mulai saya lakukan dua bulan yang lalu,” kata Suwandi dikonfirmasi ketika dikonfirmasi melalui ponselnya, Minggu (01/11/2009).

Dia mengungkapkan, budidaya Jamur Tiram ini lebih mudah perawatannya dan tidak membutuhkan tempat yang luas. Untuk merawatnya, Suwandi mengaku hanya melakukan penyiraman. Sedangkan tempatnya, dia hanya menyiapkan rumah seperti kandang. ”Jamur suka tempat yang lembab. Jadi harus banyak penyiraman dan dirawat ditempat tertutup,” jelasnya.

Disamping mudah perawatannya, usaha jamur tiram juga menguntungkan. Dalam waktu satu bulan sudah bisa dipanen. Panenya pun bisa dilakukan lima sampai tujuh bulan. Setiap harinya bisa panen sebanyak 4 kg. Per kilonya jamur tiram seharga Rp. 15.000. ”Untuk pemasarannya sangat mudah sekali. Sekarang ini belum sempat saya bawa ke pasar sudah habis diserbu warga sini,” ujar Suwandi.

Rencananya, usaha Jamur Tiram milik Suwandi ini tidak hanya memproduksi, melainkan akan dikembangkan menjadi makanan olahan. Sebab, banyak masyarakat yang suka mengkonsumsinya karena dapat dimasak apapun dan bergizi tinggi. Gizi jamur tiram sendiri diatas telur di bawah ikan. ”Kedepan nanti saya ingin mengolahnya menjadi kripik atau makan apa yang suka dikonsumsi masyarakat,” terang guru tidak tetap (GTT) ini.

Dia menambahkan, sekarang ini dirinya memiliki 1.600 jamur tiram yang sudah dipanen dan 800 bibit. Setiap bibit jamur tiram dia beli seharga 2.500. Namun biaya pembelian bibit dan perawatan itu sudah bisa dikembalikan dalam jangka waktu selama tiga bulan panen. ”Jadi dua bulan sisa penennya itu keuntungannya. Usaha ini sebenarnya cocok sekali untuk ibu-ibu rumah tangga. Karena itu usaha ini akan saya buat percontohan agar nantinya bisa dikembangkan disini dan desa lainnya,” pungkas Suwandi. (Kominfo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: